Hai, Sobat Literasi!
Pernah membaca buku karya penulis lain lalu tiba-tiba merasa tulisan sendiri tidak ada apa-apanya?
Kalimat mereka terasa begitu rapi. Pemilihan katanya menarik. Alurnya mengalir. Bahkan satu halaman terasa begitu mudah dibaca. Setelah menutup buku tersebut, kita kembali melihat naskah sendiri dan mulai berpikir, “Kenapa tulisanku tidak sebagus ini?”
Perasaan seperti itu sangat wajar dialami penulis, terutama ketika baru mulai menulis. Namun, ada satu hal yang sering dilupakan: kita sedang membandingkan proses awal kita dengan hasil akhir orang lain.
Kita melihat buku yang sudah melewati banyak proses, sementara yang kita lihat dari tulisan sendiri mungkin baru berupa draft pertama.
“Jangan menilai bab pertamamu berdasarkan buku terakhir yang berhasil ditulis orang lain”
Setiap Penulis Pernah Menjadi Pemula
Penulis yang hari ini menghasilkan buku yang bagus juga pernah memulai dari tulisan pertama.
Mereka pernah membuat kalimat yang terasa kaku, memilih kata yang kurang tepat, mengalami kebuntuan, dan melakukan revisi berkali-kali.
Perbedaannya, kita biasanya hanya melihat hasil akhirnya.
Kita tidak melihat berapa banyak draft yang mereka tulis sebelum buku tersebut diterbitkan. Kita tidak tahu berapa kali mereka memperbaiki satu bab, mengganti paragraf, atau bahkan menghapus bagian yang sudah mereka tulis.
Karena itu, jangan menganggap kemampuan menulis seseorang muncul begitu saja.
Kemampuan menulis berkembang melalui proses.
Jangan Bandingkan Proses dengan Hasil
Bayangkan seseorang baru mulai menulis buku hari ini.
Naskahnya mungkin baru mencapai lima halaman.
Kemudian ia membaca buku seorang penulis yang sudah menerbitkan sepuluh buku.
Jika keduanya dibandingkan begitu saja, tentu akan terasa sangat jauh.
Namun, perbandingan tersebut tidak adil.
Penulis yang sudah menerbitkan sepuluh buku telah melewati proses yang panjang. Ia memiliki pengalaman, kebiasaan menulis, pengetahuan tentang struktur buku, dan kemampuan yang terbentuk dari proses sebelumnya.
Sementara penulis pemula baru saja memulai perjalanan.
Jadi, jangan jadikan hasil orang lain sebagai alasan untuk meremehkan langkah pertama sendiri.
Draft Pertama Memang Tidak Harus Sempurna
Salah satu penyebab penulis sulit berkembang adalah terlalu menuntut draft pertama agar langsung sempurna.
Setiap kalimat ingin dibuat indah. Setiap paragraf ingin langsung rapi. Bahkan satu kata bisa dipikirkan berkali-kali sebelum melanjutkan ke kalimat berikutnya.
Akibatnya, proses menulis menjadi sangat lambat.
Padahal, draft pertama memiliki fungsi utama untuk menuangkan gagasan.
Kesalahan dapat diperbaiki kemudian.
Kalimat dapat ditulis ulang.
Paragraf dapat dipindahkan.
Bagian yang tidak diperlukan dapat dihapus.
Itulah gunanya revisi.
Menulis dan menyunting adalah dua proses yang berbeda. Tidak semuanya harus diselesaikan dalam satu waktu.
Gunakan Karya Orang Lain sebagai Referensi, Bukan Alat untuk Menjatuhkan Diri
Membaca karya penulis lain sebenarnya dapat menjadi sumber belajar yang sangat baik.
Perhatikan bagaimana mereka membuka sebuah bab. Lihat bagaimana mereka menjelaskan suatu gagasan. Amati bagaimana paragraf disusun dan bagaimana mereka mengakhiri pembahasan.
Alih-alih berpikir:
“Aku tidak mungkin bisa menulis seperti ini.”
ubah menjadi:
“Apa yang bisa kupelajari dari tulisan ini?”
Perubahan cara pandang tersebut dapat membuat kegiatan membaca menjadi bagian dari proses belajar menulis.
Kita tidak perlu meniru gaya penulis lain. Cukup pelajari teknik yang dapat membantu mengembangkan kemampuan sendiri.
Temukan Perkembangan dalam Tulisanmu Sendiri
Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, sesekali lihat kembali tulisan lama.
Baca tulisan yang dibuat beberapa bulan atau beberapa tahun lalu.
Mungkin kita akan menemukan banyak hal yang dulu terasa sulit, tetapi sekarang sudah dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Mungkin dahulu membutuhkan waktu lama untuk menyusun satu halaman, sedangkan sekarang dapat menyelesaikannya dengan lebih cepat.
Perkembangan seperti ini sering tidak terasa karena kita terlalu sibuk melihat pencapaian orang lain.
Padahal, diri kita yang sekarang mungkin sudah jauh lebih baik daripada diri kita yang dulu.
Setiap Buku Memiliki Perjalanan yang Berbeda
Tidak semua penulis menyelesaikan buku dalam waktu yang sama.
Ada yang membutuhkan beberapa bulan. Ada yang bertahun-tahun.
Ada yang menulis setiap hari. Ada pula yang hanya menulis ketika memiliki waktu luang.
Kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Yang penting adalah terus bergerak sesuai kemampuan dan keadaan masing-masing.
Jangan merasa gagal hanya karena prosesmu lebih lambat daripada orang lain.
Sebuah buku tidak menjadi kurang berharga hanya karena membutuhkan waktu lebih lama untuk selesai.
Jangan Takut dengan Tulisan yang Masih Sederhana
Tulisan pertama mungkin belum memiliki gaya yang kuat.
Kalimatnya mungkin masih sederhana. Pembahasannya mungkin belum sedalam yang diharapkan.
Tidak masalah.
Tulisan yang sederhana masih bisa dikembangkan.
Yang lebih sulit adalah memperbaiki sesuatu yang belum pernah ditulis.
Daripada terlalu lama memikirkan apakah tulisanmu sudah cukup bagus, lebih baik mulai menulis dan berikan kesempatan kepada tulisan tersebut untuk berkembang.
Karena kemampuan menulis tidak hanya diperoleh dengan membaca teori, tetapi juga melalui praktik menulis itu sendiri.
Fokus pada Satu Hal yang Bisa Diperbaiki
Jika membaca tulisan sendiri membuatmu merasa masih banyak kekurangan, jangan mencoba memperbaiki semuanya sekaligus.
Pilih satu hal.
Misalnya hari ini fokus pada pilihan kata.
Besok fokus pada struktur paragraf.
Kemudian belajar membuat pembukaan yang lebih menarik.
Setelah itu, belajar menyusun alur antarbagian.
Perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menghasilkan perubahan besar dalam jangka panjang.
Jadikan Penulis Lain sebagai Bukti bahwa Proses Itu Mungkin
Ketika melihat seseorang berhasil menerbitkan buku, jangan hanya melihat hasil akhirnya.
Lihat juga sebagai bukti bahwa sebuah ide memang dapat berkembang menjadi karya.
Mereka pernah memiliki halaman pertama.
Mereka pernah memiliki draft.
Mereka juga pernah menyelesaikan satu bab untuk pertama kalinya.
Artinya, setiap buku yang sudah terbit juga pernah dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: satu ide dan satu halaman pertama.
Jangan Menunggu Tulisanmu Sehebat Orang Lain
Kalau terus menunggu tulisan menjadi sehebat karya penulis yang sudah berpengalaman, kita mungkin tidak akan pernah berani memulai.
Tidak perlu menjadi penulis terbaik untuk menulis buku pertama.
Tidak perlu memiliki gaya menulis yang sempurna.
Tidak perlu mengetahui semuanya sejak awal.
Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk mulai, belajar, memperbaiki, dan melanjutkan.
Karena buku pertama bukan akhir dari perjalanan menulis.
Justru, bisa jadi buku pertama adalah awal dari kemampuan yang akan terus berkembang.
Membandingkan diri dengan penulis lain terkadang tidak bisa dihindari. Namun, kita dapat memilih bagaimana menggunakan perbandingan tersebut.
Jadikan karya orang lain sebagai inspirasi dan bahan belajar, bukan sebagai alasan untuk merasa bahwa tulisan sendiri tidak layak.
Ingatlah bahwa bab pertama kita tidak harus terlihat seperti buku terakhir orang lain.
Setiap penulis memiliki titik awal, kecepatan, pengalaman, dan perjalanan yang berbeda.
Jadi, jika tulisanmu hari ini masih terasa sederhana, jangan buru-buru menganggapnya tidak bagus.
Teruslah menulis.
Teruslah belajar.
Teruslah memperbaiki.
Karena suatu hari nanti, tulisan yang sekarang masih kamu ragukan mungkin justru menjadi bagian dari buku yang membuatmu bangga.
Tidak perlu menjadi sehebat penulis lain untuk memulai. Cukup menjadi sedikit lebih baik daripada tulisanmu kemarin.
Yuk, Tulis dan Wujudkan Bukumu Jadi Nyata!
Konsultasikan naskahmu sekarang dan wujudkan buku impianmu bersama penerbit PT. GHANI PRESS GROUP


