Tanda Hubung dan Tanda Pisah: Perbedaan, Fungsi, dan Contohnya

Tanda Hubung dan Tanda Pisah

Hai, Sobat Literasi!

Pernah menemukan tulisan yang menggunakan tanda “-” hampir di semua tempat? Misalnya, penulis memakai tanda hubung untuk menunjukkan rentang tahun, memisahkan keterangan, sekaligus menghubungkan kata ulang. Sekilas terlihat sepele, tetapi penggunaan tanda baca yang tidak tepat dapat membuat naskah terlihat kurang rapi.

“Tanda baca memang kecil, tetapi kesalahan kecil bisa mengubah cara pembaca memahami sebuah tulisan”

Dalam penulisan buku, ada beberapa tanda baca yang bentuknya mirip tetapi memiliki fungsi berbeda. Dua di antaranya adalah tanda hubung (-) dan tanda pisah (– atau —). Keduanya sering tertukar karena sama-sama berbentuk garis horizontal. Lalu, apa perbedaannya dan kapan masing-masing digunakan?

Apa Perbedaan Tanda Hubung dan Tanda Pisah?

Perbedaan paling mudah dilihat dari bentuk dan fungsinya. Tanda hubung (-) digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur tertentu dalam sebuah kata atau bentuk kata. Sementara itu, tanda pisah (–) digunakan untuk memisahkan bagian kalimat atau menunjukkan rentang.

Tanda hubung biasanya lebih pendek, sedangkan tanda pisah memiliki ukuran yang lebih panjang. Dalam naskah buku, perbedaan ini perlu diperhatikan agar penggunaan tanda baca tetap sesuai dengan maksud kalimat.

Tanda Hubung (-) untuk Menghubungkan Kata

Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur kata tertentu. Salah satu penggunaan yang paling sering ditemukan adalah pada kata ulang.

Contohnya:

  • anak-anak
  • buku-buku
  • berjalan-jalan
  • rumah-rumah

Tanda hubung juga dapat digunakan untuk menghubungkan unsur tertentu dalam penulisan bilangan atau bentuk lain yang memang membutuhkan tanda hubung.

Contoh:

  • ke-2
  • ke-10
  • tahun 1950-an

Kesalahan yang sering terjadi adalah menulis kata ulang tanpa tanda hubung atau menggunakan tanda pisah yang lebih panjang. Dalam naskah buku, bentuk penulisan seperti ini sebaiknya dibuat konsisten.

Tanda Hubung pada Kata yang Mendapat Imbuhan Tertentu

Tanda hubung juga dapat digunakan untuk memperjelas hubungan antara unsur bahasa tertentu, terutama jika terdapat bentuk yang perlu dibedakan dari kata biasa.

Misalnya:

  • se-Indonesia
  • non-Indonesia
  • anti-korupsi

Namun, penulis tidak sebaiknya menggunakan tanda hubung secara sembarangan hanya karena merasa sebuah kata akan terlihat lebih jelas. Bentuk kata yang sudah menjadi bentuk baku perlu mengikuti kaidah penulisan yang berlaku.

Karena itu, ketika ragu, penulis sebaiknya memeriksa bentuk katanya terlebih dahulu, bukan sekadar menambahkan tanda hubung.

Tanda Pisah (–) untuk Menunjukkan Rentang

Berbeda dari tanda hubung, tanda pisah dapat digunakan untuk menunjukkan rentang atau jarak antara dua unsur.

Contohnya:

  • halaman 10–20
  • tahun 2020–2025
  • pukul 08.00–10.00
  • bab II–IV

Dalam konteks tersebut, tanda pisah menunjukkan bahwa terdapat rentang dari satu titik ke titik lainnya.

Kesalahan yang sering ditemukan adalah menggunakan tanda hubung untuk semua rentang. Padahal, dalam penulisan yang mengikuti kaidah, tanda pisah memiliki fungsi tersendiri.

Tanda Pisah untuk Menyisipkan Keterangan

Tanda pisah juga dapat digunakan untuk mengapit keterangan atau bagian kalimat yang memberikan penjelasan tambahan.

Contohnya:

«Penelitian tersebut dilakukan pada tiga sekolah–masing-masing memiliki karakteristik berbeda–selama satu semester.»

Tanda pisah dalam konteks ini membantu menunjukkan bahwa bagian di tengah kalimat merupakan keterangan tambahan.

Namun, penggunaannya tetap perlu memperhatikan struktur kalimat. Jangan sampai tanda pisah justru membuat kalimat menjadi sulit dibaca.

Mengapa Penulis Buku Perlu Membedakannya?

Kesalahan tanda hubung dan tanda pisah mungkin tidak selalu mengubah makna secara drastis. Namun, ketika kesalahan tersebut muncul berkali-kali dalam sebuah naskah, tampilan tulisan dapat menjadi tidak konsisten.

Hal ini semakin penting pada buku akademik, referensi, modul, maupun buku yang memiliki banyak data berupa angka, tahun, halaman, dan istilah khusus. Penggunaan tanda baca yang konsisten membuat pembaca lebih mudah memahami informasi.

Sebelum naskah masuk ke tahap layout, penulis dapat melakukan pemeriksaan sederhana. Cari penggunaan tanda “-” dalam dokumen, kemudian periksa satu per satu apakah tanda tersebut memang berfungsi sebagai tanda hubung atau seharusnya menggunakan tanda pisah.

Jangan Sekadar Melihat Bentuknya

Tanda hubung dan tanda pisah memang sama-sama terlihat seperti garis. Namun, yang membedakan keduanya bukan sekadar panjang garis, melainkan fungsi dalam kalimat.

Penulis yang memahami fungsi setiap tanda baca akan lebih mudah menghasilkan naskah yang rapi, konsisten, dan nyaman dibaca. Pemeriksaan sederhana terhadap tanda baca juga dapat mengurangi pekerjaan revisi sebelum naskah diproses lebih lanjut.

Bagi penulis yang sedang menyiapkan naskah buku, ketelitian seperti ini menjadi bagian penting dari proses menuju naskah yang siap diterbitkan. Setelah isi selesai, jangan lupa memeriksa kembali ejaan, tanda baca, konsistensi istilah, struktur bab, hingga format naskah.

Ghani Press dapat membantu penulis dalam proses penerbitan buku, mulai dari penyuntingan, layout, desain sampul, hingga proses penerbitan. Dengan naskah yang dipersiapkan dengan baik sejak awal, proses menuju buku yang siap dibaca dapat berjalan lebih terarah.

Yuk, Tulis dan Wujudkan Bukumu Jadi Nyata!

Konsultasikan naskahmu sekarang dan wujudkan buku impianmu bersama penerbit PT. GHANI PRESS GROUP

Related Post

Recent Post

Promo Konversi KTI Menjadi Buku Ber-ISBN Mulai Rp850.000 – Ghani Press Group

Promo Konversi KTI Menjadi Buku Ber-ISBN Mulai Rp850.000 – Ghani Press Group

Memiliki skripsi, tesis, disertasi, atau hasil karya penelitian yang ingin dipublikasikan menjadi buku? Kini,

Paket Penerbitan Buku Ajar Ber-ISBN Mulai Rp700.000

Paket Penerbitan Buku Ajar Ber-ISBN Mulai Rp700.000

Apakah Anda seorang dosen, guru, akademisi, atau praktisi pendidikan yang ingin menerbitkan buku ajar

Promo Nataru 2026: Paket Penerbitan Buku Referensi Ber-ISBN Mulai Rp550.000

Promo Nataru 2026: Paket Penerbitan Buku Referensi Ber-ISBN Mulai Rp550.000

Memiliki naskah buku referensi yang ingin diterbitkan secara profesional? Inilah kesempatan yang tepat untuk