Hai, Sobat Literasi!
Pernah membaca kembali tulisan sendiri lalu merasa semuanya sudah jelas? Padahal, ketika diberikan kepada orang lain, ternyata masih ada bagian yang membingungkan, terlalu cepat berpindah topik, atau membutuhkan penjelasan tambahan. Kondisi seperti ini cukup sering terjadi karena penulis memiliki satu keuntungan sekaligus kelemahan: penulis sudah mengetahui maksud tulisannya sejak awal.
“Penulis tahu apa yang ingin disampaikan; pembaca hanya tahu apa yang benar-benar tertulis”
Saat menulis, otak tidak hanya membaca kata-kata yang ada di halaman. Penulis juga membawa konteks, pengalaman, dan gagasan yang ada di balik setiap kalimat. Akibatnya, bagian yang terasa jelas bagi penulis belum tentu memiliki makna yang sama bagi pembaca.
Karena itu, membaca ulang tulisan dengan sudut pandang pembaca menjadi salah satu langkah penting sebelum naskah dianggap selesai. Caranya bukan sekadar mencari salah ketik, melainkan mencoba melepaskan pengetahuan tentang maksud awal tulisan dan melihatnya sebagaimana orang lain akan membacanya.
Penulis Sering Terlalu Mengenal Tulisannya Sendiri
Ketika seseorang membaca tulisannya berkali-kali, otak cenderung sudah mengenali pola dan maksud yang ingin disampaikan. Kalimat yang sebenarnya kurang lengkap bisa terasa sempurna karena penulis secara otomatis mengisi bagian yang tidak tertulis.
Misalnya, sebuah buku menjelaskan istilah tertentu tanpa memberikan definisi yang cukup. Bagi penulis, istilah tersebut terasa mudah dipahami karena sudah lama mempelajarinya. Namun bagi pembaca yang baru mengenal topik tersebut, penjelasan itu mungkin terasa melompat.
Inilah alasan membaca sebagai pembaca berbeda dengan membaca sebagai penulis. Penulis perlu bertanya bukan “Apakah saya memahami tulisan ini?”, tetapi “Apakah orang yang belum mengetahui maksud saya juga dapat memahaminya?”
Periksa Apakah Gagasan Mudah Diikuti
Saat membaca ulang, perhatikan perjalanan gagasan dari satu bagian ke bagian berikutnya. Apakah pembahasan berkembang secara alami atau tiba-tiba berpindah?
Pembaca seharusnya dapat memahami mengapa sebuah informasi muncul setelah informasi sebelumnya. Jika hubungan tersebut tidak terlihat, mungkin diperlukan kalimat penghubung, penjelasan tambahan, atau penataan ulang.
Hal ini terutama penting dalam buku ilmiah, buku ajar, modul, maupun buku referensi yang memiliki banyak konsep dan istilah.
Cari Bagian yang Membutuhkan Pengetahuan Tambahan
Penulis terkadang menganggap informasi tertentu sebagai sesuatu yang sudah diketahui pembaca. Padahal, tingkat pengetahuan setiap pembaca berbeda.
Cobalah menandai istilah, konsep, singkatan, atau contoh yang mungkin belum dipahami pembaca. Tidak semuanya harus dijelaskan panjang lebar, tetapi informasi yang menjadi dasar pemahaman perlu mendapatkan konteks yang cukup.
Dengan cara ini, penulis dapat membedakan antara informasi yang memang sudah umum dan informasi yang sebenarnya membutuhkan penjelasan.
Perhatikan Kalimat yang Terasa Berat
Membaca sebagai pembaca juga berarti memperhatikan pengalaman saat mengikuti tulisan. Apakah ada kalimat yang harus dibaca dua atau tiga kali? Apakah paragraf terlalu padat? Apakah inti pembahasan sulit ditemukan?
Jika penulis sendiri berhenti karena kesulitan memahami maksud sebuah kalimat, pembaca kemungkinan juga akan mengalami hal serupa.
Solusinya bisa sederhana: memecah kalimat panjang, mengurangi kata yang tidak diperlukan, atau memindahkan informasi agar urutannya lebih mudah diikuti.
Jangan Terlalu Cepat Membela Tulisan Sendiri
Salah satu tantangan terbesar ketika membaca ulang adalah keinginan untuk mempertahankan kalimat yang sudah dibuat.
Penulis mungkin berpikir, “Maksud saya sebenarnya sudah jelas.” Namun yang perlu diuji bukan hanya maksud penulis, melainkan hasil yang diterima pembaca.
Cobalah membaca tanpa langsung memberikan pembelaan terhadap tulisan. Jika menemukan bagian yang terasa janggal, anggap itu sebagai informasi untuk diperbaiki, bukan sebagai kegagalan.
Membaca Ulang dengan Jarak yang Tepat
Jika memungkinkan, berikan jeda sebelum membaca kembali naskah. Jarak waktu membantu penulis melihat tulisan dengan perspektif yang sedikit berbeda karena tidak lagi terlalu dekat dengan proses pembuatannya.
Membaca dengan suara keras juga dapat membantu. Beberapa kalimat yang terlihat baik di layar ternyata terasa terlalu panjang atau tidak alami ketika diucapkan.
Tulisan yang Baik Tidak Hanya Dipahami Penulisnya
Menulis bukan sekadar memindahkan gagasan dari pikiran ke halaman. Setelah tulisan selesai, ada satu tahap penting: memastikan gagasan tersebut benar-benar dapat diterima oleh orang lain.
Membaca sebagai pembaca membantu penulis menemukan celah yang sering luput ketika membaca sebagai pembuat naskah. Dari sinilah tulisan dapat menjadi lebih jelas, runtut, dan mudah diikuti.
Pada akhirnya, penulis memang memiliki kendali atas apa yang ingin disampaikan. Namun setelah tulisan berada di tangan pembaca, pemahaman tidak lagi sepenuhnya berada di tangan penulis.
Tulisan yang selesai bukan berarti tulisan yang sudah sempurna. Bisa jadi, ia baru benar-benar selesai ketika penulis mampu membacanya seolah-olah belum pernah menulisnya.
Jika Anda sedang mempersiapkan naskah buku dan membutuhkan pendampingan dalam proses editing, layout, desain cover, hingga penerbitan, “PT Ghani Press Group” dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mempersiapkan naskah sebelum diterbitkan.
Yuk, Tulis dan Wujudkan Bukumu Jadi Nyata!
Konsultasikan naskahmu sekarang dan wujudkan buku impianmu bersama penerbit PT. GHANI PRESS GROUP


