Hai, Sobat Literasi!
Pernah punya banyak ide untuk dijadikan buku, tetapi begitu membuka Microsoft Word justru bingung harus menulis apa terlebih dahulu?
Di kepala mungkin sudah terbayang banyak hal. Ada topik yang ingin dibahas, pengalaman yang ingin diceritakan, informasi yang ingin dibagikan, bahkan sudah memiliki gambaran tentang siapa yang akan membaca buku tersebut.
Namun, ketika semua ide itu mulai dituangkan ke dalam halaman kosong, semuanya terasa bercampur. Akhirnya, penulis justru menghabiskan banyak waktu untuk berpikir harus memulai dari mana.
Dalam kondisi seperti ini, outline sederhana dapat membantu.
Outline bukanlah isi buku yang sudah jadi. Outline merupakan gambaran mengenai apa saja yang akan dibahas dalam sebuah buku dan bagaimana urutannya.
“Tidak perlu langsung menulis seluruh buku. Tentukan dulu ke mana tulisanmu akan berjalan”
Apa Itu Outline Buku?
Secara sederhana, outline adalah kerangka atau rancangan isi buku.
Outline membantu penulis melihat gambaran besar buku sebelum mulai menulis secara lebih detail.
Misalnya, seseorang ingin membuat buku tentang cara mengelola waktu bagi mahasiswa.
Daripada langsung menulis halaman pertama, ia dapat membuat gambaran sederhana:
- Bab 1: Mengapa Manajemen Waktu Penting?
- Bab 2: Penyebab Sulit Mengatur Waktu
- Bab 3: Cara Menentukan Prioritas
- Bab 4: Membuat Jadwal yang Realistis
- Bab 5: Menjaga Konsistensi
- Bab 6: Penutup
Dari enam poin tersebut, penulis sudah memiliki arah untuk mengembangkan isi buku.
Tentukan Topik Utama
Langkah pertama adalah menentukan apa yang sebenarnya ingin dibahas.
Jangan membuat topik terlalu luas jika belum yakin dapat mengembangkannya.
Misalnya, daripada menulis “Pendidikan”, topik dapat dibuat lebih spesifik seperti “Strategi Pembelajaran Interaktif untuk Siswa SMK”.
Semakin jelas topiknya, semakin mudah menentukan isi buku.
Coba jawab satu pertanyaan sederhana:
“Buku ini sebenarnya ingin membahas apa?”
Tuliskan jawabannya dalam satu atau dua kalimat.
Tidak perlu dibuat terlalu panjang.
Tentukan Tujuan Buku
Setelah mengetahui topik, tentukan tujuan buku tersebut.
Apa yang ingin diberikan kepada pembaca?
Apakah buku bertujuan memberikan pengetahuan, panduan, pengalaman, hiburan, atau membantu pembaca menyelesaikan suatu masalah?
Misalnya:
“Buku ini bertujuan membantu mahasiswa memahami cara mengatur waktu kuliah, organisasi, dan aktivitas pribadi”
Tujuan seperti ini dapat menjadi pedoman ketika menentukan isi setiap bab.
Jika ada bagian yang tidak berhubungan dengan tujuan utama, penulis dapat mempertimbangkan kembali apakah bagian tersebut memang perlu dimasukkan.
Tentukan Siapa Pembacanya
Outline akan lebih mudah dibuat jika penulis mengetahui siapa target pembacanya.
Buku untuk mahasiswa tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan buku untuk guru, siswa sekolah, orang tua, atau masyarakat umum.
Tanyakan:
“Siapa yang paling membutuhkan buku ini?”
Setelah mengetahui jawabannya, pilih pembahasan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dengan begitu, isi buku tidak hanya berisi informasi yang ingin disampaikan penulis, tetapi juga memiliki manfaat yang jelas bagi pembaca.
Buat Daftar Bab Utama
Sekarang mulai buat struktur paling sederhana.
Tidak perlu langsung membuat puluhan subbab.
Cukup tuliskan beberapa bagian besar yang ingin dibahas.
Contohnya, jika topiknya adalah “Cara Memulai Menulis Buku”:
Bab 1 – Menentukan Ide Buku
Bab 2 – Mengenali Target Pembaca
Bab 3 – Membuat Outline
Bab 4 – Mulai Menulis
Bab 5 – Melakukan Revisi
Bab 6 – Mempersiapkan Naskah untuk Diterbitkan
Pada tahap ini, jangan terlalu memikirkan kalimat yang sempurna.
Yang penting adalah arah pembahasannya sudah terlihat.
Pecah Bab Menjadi Subbab
Setelah daftar bab selesai, barulah setiap bab dapat dipecah menjadi beberapa subbab.
Contohnya:
Bab 1 – Menentukan Ide Buku
- Dari mana ide buku berasal?
- Menentukan masalah yang ingin dibahas.
- Menentukan fokus pembahasan.
- Mengembangkan ide menjadi topik.
Dengan cara tersebut, penulis tidak lagi menghadapi halaman kosong.
Ketika akan menulis Bab 1, sudah ada beberapa poin yang dapat dikembangkan menjadi paragraf.
Urutkan Pembahasan
Setelah semua poin ditulis, periksa kembali urutannya.
Apakah pembaca akan memahami pembahasan dari awal hingga akhir?
Misalnya, jangan menjelaskan solusi sebelum menjelaskan masalahnya.
Untuk buku panduan, struktur sederhana dapat berupa:
Masalah → Penyebab → Pembahasan → Solusi → Penerapan
Sementara untuk buku lainnya, urutannya dapat disesuaikan dengan jenis dan tujuan buku.
Yang penting, setiap bagian memiliki hubungan dengan bagian berikutnya.
Jangan Membuat Outline Terlalu Rumit
Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat outline yang terlalu detail sebelum mulai menulis.
Penulis bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membuat kerangka, tetapi tidak kunjung menulis isi.
Padahal, outline seharusnya membantu proses menulis, bukan menjadi pekerjaan yang membuat penulis semakin sulit memulai.
Jika baru pertama kali membuat outline, cukup gunakan:
Topik → Bab → Subbab → Poin penting
Itu sudah cukup untuk menjadi panduan awal.
Gunakan Pertanyaan untuk Membantu Mengembangkan Isi
Jika masih bingung menentukan subbab, gunakan pertanyaan sederhana.
Misalnya topiknya “Cara Menulis Buku”.
Tanyakan:
- Apa yang harus dilakukan sebelum menulis?
- Dari mana ide berasal?
- Bagaimana menentukan topik?
- Siapa target pembacanya?
- Bagaimana membuat kerangka?
- Apa yang dilakukan ketika kehilangan ide?
- Bagaimana melakukan revisi?
- Kapan naskah siap dikirim ke penerbit?
Setiap pertanyaan dapat menjadi satu pembahasan.
Cara ini sangat membantu ketika penulis memiliki ide besar tetapi belum tahu bagaimana memecahnya menjadi bagian-bagian kecil.
Outline Tidak Harus Langsung Sempurna
Outline dapat berubah ketika proses menulis berlangsung.
Penulis mungkin menemukan gagasan baru yang lebih cocok dimasukkan ke bab lain. Ada pula bagian yang ternyata terlalu panjang dan perlu dipecah menjadi dua bab.
Hal tersebut bukan masalah.
Outline merupakan panduan, bukan aturan yang tidak boleh diubah.
Justru, perubahan outline dapat terjadi karena penulis semakin memahami isi bukunya.
Yang perlu dijaga adalah perubahan tersebut tetap membuat buku lebih terarah.
Contoh Outline Sederhana
Misalnya ingin menulis buku berjudul “Belajar Menulis dari Nol”.
Outline sederhananya dapat dibuat seperti ini:
Bab 1 – Mengapa Menulis?
- Manfaat menulis
- Menemukan alasan untuk menulis
- Mengatasi rasa takut memulai
Bab 2 – Menemukan Ide
- Sumber ide
- Memilih topik
- Menentukan fokus
Bab 3 – Menyusun Outline
- Menentukan bab
- Membuat subbab
- Mengurutkan pembahasan
Bab 4 – Mulai Menulis
- Menentukan target
- Menulis draft
- Mengatasi kebuntuan
Bab 5 – Merevisi Tulisan
- Memeriksa isi
- Memperbaiki bahasa
- Melakukan proofreading
Bab 6 – Menyiapkan Naskah
- Memeriksa kelengkapan
- Menyiapkan file
- Mempersiapkan naskah untuk diterbitkan
Dari kerangka tersebut, penulis sudah memiliki gambaran perjalanan buku dari awal sampai akhir.
Jangan Menunggu Outline Sempurna untuk Mulai Menulis
Outline memang penting, tetapi jangan sampai outline justru menjadi alasan untuk terus menunda.
Setelah kerangka dasar selesai, mulai kembangkan poin pertama.
Tidak perlu langsung menghasilkan halaman yang sempurna.
Tulis terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan. Setelah itu, tulisan dapat diperiksa dan dikembangkan melalui proses revisi.
Karena tujuan utama outline adalah membuat penulis lebih mudah mulai menulis.
Memiliki banyak ide tidak selalu berarti seseorang akan mudah menulis buku. Tanpa arah yang jelas, berbagai ide justru dapat membuat penulis bingung menentukan bagian mana yang harus ditulis terlebih dahulu.
Di sinilah outline dapat membantu.
Tidak perlu membuat kerangka yang rumit. Mulailah dari topik utama, tujuan buku, target pembaca, daftar bab, dan beberapa subbab.
Setelah itu, kembangkan setiap poin secara perlahan menjadi tulisan.
Jika dalam prosesnya outline berubah, tidak perlu khawatir. Kerangka buku memang dapat berkembang seiring dengan berkembangnya gagasan penulis.
Jadi, jika hari ini kamu punya ide buku tetapi masih bingung harus mulai dari mana, jangan langsung memikirkan seratus halaman.
Buat satu outline sederhana terlebih dahulu.
Karena ketika arah tulisan sudah jelas, halaman kosong tidak lagi terasa seseram sebelumnya.
Yuk, Tulis dan Wujudkan Bukumu Jadi Nyata!
Konsultasikan naskahmu sekarang dan wujudkan buku impianmu bersama penerbit PT. GHANI PRESS GROUP


