Hai, Sobat Literasi!
Pernah punya keinginan untuk menulis buku, tetapi selalu merasa belum punya cukup waktu untuk memulainya? Hari ini ingin menulis, tetapi pekerjaan menumpuk. Besok berencana melanjutkan, tetapi tubuh sudah lelah. Akhirnya, ide yang awalnya begitu menggebu hanya tersimpan dalam catatan dan tidak pernah benar-benar menjadi sebuah buku.
Banyak orang mengira untuk menulis buku dibutuhkan waktu berjam-jam setiap hari. Padahal, tidak selalu demikian. Menulis tidak harus selalu dalam jumlah banyak. Satu halaman yang benar-benar ditulis hari ini jauh lebih berarti daripada seratus halaman yang hanya direncanakan tetapi tidak pernah selesai.
Menulis adalah proses. Ada hari ketika ide mengalir dengan mudah, tetapi ada juga hari ketika satu paragraf saja terasa sulit. Yang terpenting bukan selalu seberapa banyak yang berhasil ditulis, melainkan apakah kita tetap memberikan ruang untuk melanjutkannya.
“Tulisan yang selesai tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi dari langkah-langkah kecil yang terus dilakukan”
Tidak Harus Menunggu Waktu Luang
Salah satu alasan yang sering membuat seseorang menunda menulis adalah menunggu waktu luang.
“Kalau sudah tidak sibuk, saya akan menulis.”
Masalahnya, waktu luang yang benar-benar panjang mungkin tidak pernah datang. Kesibukan akan selalu ada, baik pekerjaan, kuliah, keluarga, maupun aktivitas lainnya.
Daripada menunggu beberapa jam kosong, cobalah mencari waktu yang lebih realistis. Lima belas atau tiga puluh menit sehari mungkin terlihat sedikit, tetapi jika dilakukan secara konsisten, waktu tersebut dapat menghasilkan perkembangan yang nyata.
Menulis satu halaman hari ini tetap merupakan kemajuan.
Sedikit demi Sedikit Tetap Menjadi Sebuah Buku
Bayangkan seorang penulis berhasil menyelesaikan satu halaman setiap hari.
Dalam satu minggu, sudah ada sekitar tujuh halaman. Dalam satu bulan, jumlahnya dapat mencapai sekitar tiga puluh halaman jika dilakukan secara konsisten.
Tentu saja, proses menulis tidak selalu berjalan dengan jumlah yang sama setiap hari. Ada hari ketika seseorang mampu menghasilkan lima halaman, ada pula hari ketika hanya satu paragraf yang berhasil ditulis.
Namun, prinsipnya tetap sama: kemajuan kecil tetap merupakan kemajuan.
Sebuah buku yang terdiri dari puluhan atau ratusan halaman pun pada dasarnya dibangun dari kalimat demi kalimat.
Jangan Terlalu Sibuk Mengejar Tulisan Sempurna
Keinginan menghasilkan tulisan yang bagus tentu merupakan hal yang positif. Namun, jika keinginan tersebut membuat penulis tidak kunjung menyelesaikan satu paragraf karena terus menghapus dan menulis ulang, prosesnya justru dapat terhambat.
Pada tahap awal, fokuslah terlebih dahulu untuk menuangkan gagasan.
Tidak semua kalimat harus langsung sempurna. Ada tahap revisi yang dapat digunakan untuk memperbaiki struktur, pilihan kata, ejaan, maupun alur pembahasan.
Dengan memisahkan proses menulis dan merevisi, penulis dapat memberikan ruang bagi dirinya untuk menghasilkan draft tanpa terlalu takut melakukan kesalahan.
Satu Halaman Membuat Kita Lebih Dekat dengan Tujuan
Ketika baru memiliki ide buku, tujuan “menyelesaikan sebuah buku” mungkin terasa sangat besar.
Seratus halaman terlihat jauh. Dua ratus halaman terasa semakin berat.
Karena itu, cobalah mengubah fokus.
Jangan selalu berpikir, “Bagaimana saya menyelesaikan seluruh buku?”
Tanyakan:
“Bagian apa yang bisa saya selesaikan hari ini?”
Mungkin jawabannya adalah satu halaman. Bisa juga satu subbab, satu pembahasan, atau bahkan hanya beberapa paragraf.
Ketika bagian kecil tersebut selesai, kita sudah selangkah lebih dekat dengan buku yang diinginkan.
Tetapkan Target yang Bisa Dicapai
Target menulis yang terlalu tinggi justru dapat membuat seseorang mudah kehilangan motivasi.
Misalnya, seseorang menetapkan target menulis 20 halaman setiap hari, padahal aktivitas hariannya sangat padat. Ketika target tersebut tidak tercapai, muncul perasaan gagal dan akhirnya keinginan menulis ikut menurun.
Lebih baik membuat target yang realistis.
Contohnya:
- Menulis satu halaman setiap hari.
- Menyelesaikan satu subbab dalam seminggu.
- Menulis selama 30 menit setiap malam.
- Menyelesaikan satu bagian sebelum akhir pekan.
Target kecil yang konsisten lebih mudah dipertahankan daripada target besar yang hanya dilakukan sesekali.
Jangan Meremehkan Satu Paragraf
Ada kalanya seorang penulis hanya mampu menulis satu paragraf dalam sehari.
Apakah itu berarti hari tersebut sia-sia?
Tentu tidak.
Satu paragraf tersebut tetap merupakan bagian dari buku. Besok, paragraf tersebut dapat dilanjutkan. Lusa, mungkin sudah menjadi satu halaman. Minggu berikutnya, bagian tersebut bisa berkembang menjadi satu subbab.
Karya yang besar tidak selalu dibangun dalam satu waktu.
Sering kali, karya tersebut tumbuh dari bagian-bagian kecil yang dikumpulkan secara perlahan.
Konsistensi Lebih Penting daripada Kecepatan
Menulis dengan cepat memang menyenangkan, terutama ketika ide sedang mengalir. Namun, tidak semua penulis memiliki kecepatan yang sama.
Ada yang mampu menyelesaikan naskah dalam beberapa bulan. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.
Tidak perlu membandingkan proses tersebut.
Yang lebih penting adalah menjaga agar tulisan tetap bergerak.
Lebih baik menulis sedikit tetapi terus berlanjut daripada menulis banyak dalam satu hari lalu berhenti selama berbulan-bulan.
Bagaimana Jika Sudah Lama Tidak Menulis?
Jika sudah terlanjur berhenti, tidak perlu menunggu awal bulan, awal tahun, atau momen yang dianggap sempurna untuk memulai kembali.
Buka kembali naskah.
Baca bagian terakhir yang sudah ditulis.
Kemudian lanjutkan dari sana.
Tidak harus langsung mengejar ketertinggalan. Cukup mulai dengan satu paragraf.
Kadang-kadang, tantangan terbesar bukan menyelesaikan tulisan, tetapi memulai kembali setelah berhenti.
Ketika Naskah Mulai Terlihat sebagai Buku
Ada kepuasan tersendiri ketika tulisan yang awalnya hanya berupa ide mulai berubah menjadi naskah utuh.
Bab demi bab mulai selesai. Halaman demi halaman mulai bertambah. Yang sebelumnya hanya ada dalam pikiran akhirnya memiliki bentuk nyata.
Pada tahap inilah penulis dapat mulai memikirkan proses berikutnya, seperti melakukan penyuntingan, proofreading, layout, desain cover, hingga menerbitkan buku.
Karena pada akhirnya, tujuan menulis bukan hanya memiliki banyak ide, tetapi juga memberi kesempatan kepada ide tersebut untuk menjadi sebuah karya yang selesai.
Jangan Menunggu Motivasi untuk Menulis
Motivasi memang dapat membantu seseorang memulai. Namun, motivasi tidak selalu datang setiap hari.
Ada kalanya kita bersemangat menulis. Ada pula hari ketika menulis terasa berat.
Karena itu, jangan menjadikan motivasi sebagai satu-satunya alasan untuk menulis.
Bangun kebiasaan sederhana.
Duduk, buka naskah, dan tulis sedikit.
Tidak harus sempurna. Tidak harus banyak.
Yang penting, tulisan tersebut bergerak maju.
Menulis buku tidak harus selalu dimulai dengan target yang besar. Terkadang, langkah paling sederhana justru lebih mudah dipertahankan.
Satu halaman hari ini mungkin terlihat kecil. Namun, satu halaman yang ditulis secara konsisten dapat berubah menjadi puluhan bahkan ratusan halaman.
Sebaliknya, seratus halaman yang hanya ada dalam rencana tidak akan pernah menjadi buku jika tidak pernah mulai ditulis.
Jadi, jika hari ini Anda hanya memiliki waktu untuk menulis satu halaman, tulislah satu halaman.
Jika hanya mampu menulis satu paragraf, tulislah satu paragraf.
Tidak perlu menunggu tulisan sempurna, waktu yang sempurna, atau motivasi yang sempurna.
Mulailah dari yang bisa ditulis hari ini. Karena sebuah buku yang selesai selalu dimulai dari satu halaman pertama.
Yuk, Tulis dan Wujudkan Bukumu Jadi Nyata!
Konsultasikan naskahmu sekarang dan wujudkan buku impianmu bersama penerbit PT. GHANI PRESS GROUP


