Hai, Sobat Ghani Press!
Sebuah program agribisnis bisa saja terlihat sempurna ketika masih berada di atas kertas. Perhitungannya matang, modal sudah disiapkan, target produksi ditentukan, bahkan model bisnisnya telah dirancang sedemikian rupa. Namun ketika diterapkan di lapangan, hasilnya bisa berbeda jauh dari yang diharapkan.
“Rencana bisa disusun di atas kertas, tetapi keberhasilan ditentukan oleh manusia yang menjalankannya”
Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Salah satu jawabannya adalah karena pertanian tidak pernah berdiri hanya di atas persoalan produksi dan keuntungan. Di balik kegiatan pertanian terdapat manusia, hubungan antarpetani, kebiasaan masyarakat, kepercayaan, kepentingan, bahkan kekuasaan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi bagaimana sebuah program diterima dan dijalankan oleh masyarakat pedesaan.
Inilah salah satu gagasan menarik yang dibahas dalam buku Sosiologi Pertanian dan Pedesaan karya Prof. Dr. Fitriani, S.P., M.E.P., Dr. Sutarni, S.P., M.E.P., dan Ir. Teguh Budi Trisnanto, M.Si., yang diterbitkan oleh PT. Ghani Press Group pada 16 Juli 2026.
Agribisnis Bukan Sekadar Perhitungan Ekonomi
Ketika membicarakan agribisnis, pembahasan sering kali berpusat pada produksi, biaya, pasar, keuntungan, dan efisiensi. Semua hal tersebut memang penting. Namun, keberhasilan sebuah usaha juga dipengaruhi oleh kondisi sosial tempat usaha tersebut berlangsung.
Petani tidak bekerja dalam ruang kosong. Mereka berada dalam komunitas yang memiliki aturan tidak tertulis, kebiasaan, jaringan hubungan, dan pengalaman panjang dalam mengelola sumber daya.
Karena itu, sebuah pola kemitraan yang terlihat menguntungkan secara ekonomi belum tentu langsung diterima masyarakat. Cara berkomunikasi, pihak yang terlibat, tingkat kepercayaan, serta pengalaman masyarakat terhadap program sebelumnya dapat memengaruhi keputusan mereka.
Kepercayaan Menjadi Bagian Penting
Bayangkan sebuah perusahaan menawarkan kerja sama kepada kelompok petani dengan skema yang secara finansial terlihat menarik. Secara teori, petani akan mendapatkan keuntungan dan perusahaan memperoleh pasokan produk.
Namun, apakah kesepakatan tersebut otomatis berjalan?
Belum tentu.
Jika sebelumnya pernah terjadi pengalaman buruk dalam hubungan kemitraan, masyarakat mungkin menjadi lebih berhati-hati. Sebaliknya, hubungan yang telah dibangun melalui kepercayaan dapat membuat proses kerja sama lebih mudah.
Inilah mengapa hubungan sosial tidak bisa begitu saja dipisahkan dari kegiatan ekonomi. Dalam konteks pedesaan, keputusan ekonomi dapat dipengaruhi oleh hubungan antarmanusia yang telah terbentuk sebelumnya.
Ketika Kekuasaan Ikut Memengaruhi Agribisnis
Selain kepercayaan, terdapat persoalan lain yang tidak kalah penting: siapa yang memiliki pengaruh dalam menentukan keputusan?
Dalam suatu komunitas, tidak semua pihak memiliki posisi sosial dan akses terhadap sumber daya yang sama. Ada pihak yang lebih mudah mendapatkan informasi, modal, akses pasar, atau ruang dalam pengambilan keputusan.
Situasi tersebut dapat memengaruhi bagaimana sebuah program agribisnis dijalankan. Program yang terlihat memberikan manfaat secara umum belum tentu memberikan dampak yang sama kepada setiap kelompok masyarakat.
Karena itu, memahami kondisi sosial membantu pelaku agribisnis melihat persoalan secara lebih menyeluruh. Pertanyaannya bukan sekadar apakah sebuah program menguntungkan, tetapi juga siapa yang mendapatkan manfaat, siapa yang memiliki akses, dan bagaimana keputusan dibuat.
Mengapa Pendekatan Sosial Penting bagi Pembangunan Pedesaan?
Pembangunan pertanian dan pedesaan pada akhirnya berhubungan dengan kehidupan masyarakat. Teknologi baru, model kemitraan, pengembangan usaha, maupun inovasi tidak akan berjalan optimal jika masyarakat yang menjadi bagian dari program tidak dilibatkan secara tepat.
Pendekatan sosial membantu melihat masyarakat bukan sekadar sebagai penerima program, tetapi sebagai pihak yang memiliki pengalaman, pengetahuan, kepentingan, dan kemampuan untuk menentukan arah perubahan.
Karena itu, memahami kondisi sosial dapat membantu merancang program yang lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Dari Angka Menuju Kehidupan Nyata
Data tetap penting dalam perencanaan agribisnis. Namun, angka tidak selalu mampu menjelaskan seluruh alasan di balik sebuah keputusan.
Mengapa petani memilih bertahan dengan metode tertentu? Mengapa sebagian masyarakat menerima inovasi sementara lainnya menolak? Mengapa sebuah kemitraan berjalan di satu wilayah tetapi menghadapi hambatan di wilayah lain?
Pertanyaan seperti ini membutuhkan pemahaman terhadap manusia dan lingkungan sosialnya.
Buku yang Mengajak Melihat Agribisnis dari Sisi yang Berbeda
Sosiologi Pertanian dan Pedesaan disusun dalam delapan bab yang membahas fondasi sosiologi pertanian, stratifikasi dan modal sosial, gender dan ketenagakerjaan, konflik agraria, inovasi sosial, hingga proyek akhir berbasis riset partisipatif. Buku ini juga dilengkapi studi kasus dan kerangka analitis yang menghubungkan pembelajaran di kelas dengan kondisi di lapangan.
Pada akhirnya, agribisnis bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan produk dan memperoleh keuntungan. Ada manusia yang bekerja di dalamnya, masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistemnya, serta hubungan sosial yang ikut menentukan apakah sebuah gagasan dapat benar-benar berjalan.
Sebuah program mungkin dirancang dengan perhitungan yang sempurna. Namun tanpa memahami masyarakat yang menjalankannya, perhitungan tersebut belum tentu menemukan jalannya.
Buku Sosiologi Pertanian dan Pedesaan karya Prof. Dr. Fitriani, S.P., M.E.P., Dr. Sutarni, S.P., M.E.P., dan Ir. Teguh Budi Trisnanto, M.Si. dapat menjadi referensi bagi mahasiswa, akademisi, maupun pembaca yang ingin memahami pertanian bukan sekadar sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat pedesaan. Buku ini tersedia dalam katalog e-book PT. Ghani Press Group.
Yuk, Tulis dan Wujudkan Bukumu Jadi Nyata!
Konsultasikan naskahmu sekarang dan wujudkan buku impianmu bersama penerbit PT. GHANI PRESS GROUP

